Agak basi kali ya? hari gini ngebahas “Confession of a Shopaholic”, hihihihi, tapi nggak apa-apa akh, **meksa..!!
Tapi kalo ngomongin buku ma ni film, haduh… jauh banget, again and again and again, buku yang di filmkan, jadinya, kacau, dipaksakan gitu, di masukkan ke frame visual secara paksa, huhuhu, menyesal saya setiap kali menonton film hasil dari buku yang sudah saya baca sebelumnya, penampakan visualnya jauh lebih bagus di bayangan saya daripada di film, yah mungkin terbatas oleh yang namanya time frame nya juga kali ya? eniwei, intinya, dari dulu sampe sok-sok mbesok, yang namanya buku, kalau mau di film-in, harap jangan merubah alur ceritanya, jangan dipaksakan, istilahnya air se-ember mo di masukin di gelas, ya mana muwat, yang ada banyak yang hilang, tumpah.
**semoga besok film My Sister’s Keeper nggak bernasib sama**
Eniwe, diceritakan, intinya adalah, Rebecca Bloomwood seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan berbelanja.
Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya selamanya.
**
Ok Ok, cukup mengenai buku dan film ini, sekarang, kita membicarakan mengenai “Confession of a Shopaholic”, hihihihi, hayo… jangan bohong, saya yakin, seratus ribu persen, nggak cuma si Rebecca yang mempunyai sisi ini, alias sisi gila belanja, huehuehe. Setiap manusia, terutama wanita, mempunyai sisi ini, sisi Shopaholic, walaupun dengan kadar dan bidang yang masing-masing berbeda.
Misal aja, Read the rest of this entry »